Pendahuluan
IBM baru saja merilis laporan tahunan ke-20 mereka: Cost of a Data Breach Report 2025. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, biaya kebocoran data di seluruh dunia akhirnya mengalami penurunan.
Namun, laporan ini juga menunjukkan perubahan besar di dunia keamanan siber. Kecerdasan buatan (AI) kini berperan penting, baik untuk pertahanan maupun serangan. Di satu sisi, AI membantu perusahaan mendeteksi ancaman dengan cepat. Tapi di sisi lain, penyerang juga mulai menggunakan AI generatif untuk membuat phishing, deepfake, dan serangan lain yang lebih canggih.
Masalah lainnya: banyak organisasi terburu-buru mengadopsi AI tanpa aturan, tanpa pengawasan, dan tanpa kontrol keamanan. Hal ini membuat mereka rentan terhadap shadow AI, yaitu penggunaan AI tanpa izin dan tanpa pengawasan TI.
Ringkasan Temuan Utama Laporan IBM 2025
1. Tren Global dan Biaya Kebocoran Data
Tahun 2025 menjadi titik balik: biaya kebocoran data global turun untuk pertama kalinya sejak 2019. Penurunan ini terutama disebabkan oleh deteksi ancaman yang lebih cepat berkat penggunaan AI.
Namun Amerika Serikat justru mencatat rekor baru karena tingginya denda dan biaya deteksi.
-
4,44 juta USD → rata-rata biaya kebocoran data global (turun 9% dari 2024)
-
10,22 juta USD → biaya rata-rata di Amerika Serikat
-
7,42 juta USD → sektor kesehatan masih menjadi sektor dengan biaya termahal
-
Biaya deteksi dan eskalasi turun hampir 10%, berkat AI dan otomatisasi
2. Adopsi AI Meningkat, Tapi Keamanannya Tidak
Banyak perusahaan mulai memakai AI, namun sebagian besar belum memiliki aturan atau kebijakan untuk mengelolanya. Akibatnya, muncul risiko baru seperti shadow AI—penggunaan AI tanpa izin, yang bisa membocorkan data sensitif.
Data penting lainnya:
-
97% kebocoran terkait AI terjadi karena kurangnya kontrol akses
-
63% organisasi tidak memiliki kebijakan tata kelola AI
-
20% kebocoran berasal dari shadow AI → menambah biaya rata-rata 670.000 USD
-
65% data yang bocor dalam shadow AI adalah data pribadi pelanggan (PII)
3. Penyerang Juga Menggunakan AI
Penjahat siber kini memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan. Phishing, deepfake, dan pesan palsu kini bisa dibuat hanya dalam hitungan menit.
Statistiknya:
-
1 dari 6 kebocoran data melibatkan penyerang yang menggunakan AI
-
Metode serangan paling umum:
-
Phishing buatan AI – 37%
-
Deepfake – 35%
-
-
IBM menemukan bahwa pembuatan email phishing dengan AI hanya memerlukan 5 menit, jauh lebih cepat dibandingkan 16 jam secara manual.
4. Ransomware dan Perubahan Respons
Ransomware masih menjadi jenis serangan paling merugikan. Namun kini lebih banyak korban memilih tidak membayar tebusan. Sayangnya, semakin sedikit organisasi yang melibatkan aparat penegak hukum, padahal itu bisa mengurangi biaya total.
-
63% korban tidak membayar tebusan
-
Rata-rata biaya ransomware: 5,08 juta USD
-
Hanya 40% perusahaan yang melibatkan polisi atau pihak berwenang
5. Investasi Keamanan dan Tata Kelola
Yang mengejutkan, semakin sedikit organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan setelah mengalami kebocoran data.
-
Hanya 49% organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan (turun dari 63%)
-
Namun bagi mereka yang berinvestasi, fokusnya adalah:
-
AI untuk deteksi ancaman → 43%
-
Pengujian respons insiden → 35%
-
Perlindungan data → 37%
-
Insight dari ThreatMon
Laporan IBM 2025 menunjukkan bahwa AI telah mengubah aturan permainan di dunia keamanan siber.
Perusahaan yang menggunakan AI dan otomatisasi mampu:
-
mempercepat pendeteksian ancaman,
-
mempersingkat waktu penanganan hingga puluhan hari,
-
dan menghemat biaya jutaan dolar.
Tetapi para penyerang juga menggunakan AI, sehingga ancaman semakin canggih dan sulit dibedakan dari interaksi asli manusia. Ditambah lagi, shadow AI menciptakan area “gelap” yang tidak terlihat oleh perusahaan.
ThreatMon menyoroti empat area penting yang perlu diperhatikan organisasi:
1. Intelijen Ancaman Berbasis AI
ThreatMon memantau:
-
kit phishing,
-
kampanye deepfake,
-
dan infrastruktur serangan berbasis AI di dark web.
Dengan begitu, organisasi bisa mendeteksi ancaman sebelum menyerang.
2. Deteksi Shadow AI dan Tata Kelola
ThreatMon mengidentifikasi penggunaan AI tanpa izin, misalnya:
-
API tidak aman,
-
plug-in AI berbahaya,
-
aplikasi AI yang tidak disetujui.
Ini membantu organisasi mengurangi risiko kebocoran data dari alat AI yang tidak diawasi.
3. Deteksi dan Respons Insiden Lebih Cepat
Organisasi yang menggunakan AI secara ekstensif dapat mempersingkat waktu kebocoran hingga 80 hari.
ThreatMon memberikan:
-
monitoring otomatis,
-
deteksi dini,
-
alert real-time.
Ini mempercepat respons sebelum kebocoran membesar.
4. Ketahanan terhadap Ransomware
ThreatMon mendukung organisasi dengan intelijen ransomware, panduan penegakan hukum, dan peningkatan playbook IR, sehingga mereka lebih siap menghadapi serangan.
Kesimpulan
Laporan IBM 2025 adalah peringatan keras bagi dunia bisnis.
AI berkembang sangat cepat, dan penyerang tidak menunggu aturan keamanan atau kebijakan perusahaan. Tanpa tata kelola yang tepat, AI justru dapat membuka celah risiko baru.
Dengan visibilitas, intelijen ancaman, dan otomatisasi yang tepat, organisasi tidak hanya bisa menutup celah pengawasan AI, tetapi juga menjadikannya keunggulan pertahanan.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan threatmon indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi threatmon.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
